Memberi Diskon Tanpa Diam-Diam Menghapus Margin

Potongan harga terasa ringan saat diberikan dan terasa berat saat dihitung. Yang hilang bukan sepuluh persen dari harga jual, melainkan sebagian besar keuntungan barang itu.

TV Tim Ventamediatek 5 menit baca 6 pembaca

Pelanggan meminta potongan, kasir memberi potongan, barang keluar. Transaksinya selesai dalam sepuluh detik dan hampir tidak pernah dicatat sebagai apa pun selain "harga jual lebih murah hari itu".

Di akhir bulan, omzet terlihat baik-baik saja. Yang tidak terlihat adalah berapa banyak margin yang sudah diberikan pergi begitu saja.

Diskon adalah biaya, bukan sekadar harga yang lebih rendah

Menurunkan harga sepuluh persen bukan berarti kehilangan sepuluh persen. Yang hilang diambil seluruhnya dari margin, bukan dari harga jual.

Barang dengan harga beli Rp 8.000 dan harga jual Rp 10.000 memberi Anda Rp 2.000. Diskon sepuluh persen membuat harganya Rp 9.000 — dan margin Anda tinggal Rp 1.000. Potongan sepuluh persen tadi baru saja memotong setengah keuntungan barang itu.

Inilah sebabnya diskon terasa ringan saat diberikan dan terasa berat saat dihitung. Cara menghitung margin yang benar sudah kami bahas terpisah di menentukan harga jual yang tidak diam-diam merugi; diskon hanya membuat perhitungan itu jauh lebih tidak memaafkan.

Tiga bentuk potongan dengan akibat yang berbeda

Ketiganya sering disebut "diskon", padahal jejaknya di catatan tidak sama.

Potongan nominal — "kurangi lima ribu" — paling mudah dilacak dan paling mudah dikendalikan. Nilainya tetap, tidak ikut membesar saat belanjaan pelanggan besar.

Potongan persen membesar mengikuti nilai transaksi. Sepuluh persen untuk belanja Rp 50.000 berbeda jauh akibatnya dengan sepuluh persen untuk belanja Rp 2.000.000, tetapi keduanya diketik dengan angka yang sama di kasir.

Bonus barang — beli dua gratis satu, atau tambahan sampel — sering dianggap bukan diskon sama sekali. Padahal barang yang keluar tanpa penjualan tetap harus berkurang dari stok. Kalau tidak, stok di sistem perlahan lebih besar daripada isi rak, dan selisihnya baru ketahuan saat stok opname.

Diskon lisan adalah diskon yang hilang

Potongan yang disepakati di depan pelanggan lalu dimasukkan sebagai harga yang sudah diubah — bukan sebagai diskon — menghapus jejaknya sendiri. Yang tersimpan hanya harga akhir. Tidak ada catatan bahwa harga itu pernah lebih tinggi, siapa yang menurunkannya, atau atas alasan apa.

Akibatnya muncul belakangan, dalam bentuk pertanyaan yang tidak bisa dijawab: kenapa margin bulan ini turun padahal harga beli tidak naik?

Catat potongan sebagai potongan, di baris tersendiri, meskipun nilainya kecil. Harga jual tetap harga jual, dan diskon berdiri di sebelahnya. Cara ini juga membuat penutupan kasir lebih tenang, karena selisih yang muncul punya penjelasan — hal yang kami singgung di menutup kasir di akhir hari.

Batas wewenang lebih berguna daripada larangan

Melarang karyawan memberi diskon jarang bertahan lama. Pelanggan tetap menawar, dan kasir yang tidak punya wewenang akan mencari jalan lain — memasukkan barang lebih murah, atau membatalkan lalu mengetik ulang.

Yang lebih berhasil adalah memberi batas yang jelas: potongan sampai nilai tertentu boleh diberikan siapa saja, di atas itu perlu persetujuan Anda. Batasnya tidak perlu besar. Yang penting angkanya diketahui semua orang, sehingga penawaran di luar batas menjadi keputusan, bukan kebiasaan.

Diskon yang direncanakan adalah alat penjualan. Diskon yang diberikan spontan setiap kali pelanggan menawar adalah harga jual Anda yang sebenarnya.

Promo yang layak diulang, promo yang layak dihentikan

Promo dijalankan karena terasa ramai, dan diulang karena terasa berhasil. "Terasa" adalah kata yang mahal di sini.

Satu promo layak diulang kalau tiga hal ini benar: jumlah transaksinya naik, margin totalnya tidak turun, dan sebagian pembelinya kembali setelah promo berakhir. Kalau yang naik hanya jumlah transaksi sementara margin total ikut turun, yang Anda lakukan bukan berjualan lebih banyak — melainkan menjual barang yang sama dengan harga lebih murah kepada pelanggan yang tetap akan membeli.

Bandingkan satu periode promo dengan periode sebelumnya yang panjangnya sama. Dua minggu dibandingkan dua minggu, bukan akhir pekan dibandingkan hari biasa.

Yang bisa dan tidak bisa dibantu sistem

Sistem bisa menyimpan setiap potongan sebagai baris tersendiri, menahan potongan di atas batas sampai disetujui, mengurangi stok untuk barang bonus, dan menunjukkan margin setelah diskon — bukan hanya omzet. Angka terakhir itu yang layak masuk ke tinjauan mingguan Anda, bersama dua angka lain yang kami sebut di tiga angka yang layak dilihat setiap minggu.

Yang tidak bisa dilakukan sistem adalah memutuskan kapan potongan pantas diberikan. Itu tetap penilaian Anda terhadap pelanggan yang ada di depan kasir.

Mulai dari satu bulan pencatatan

Tidak perlu langsung mengubah aturan diskon. Selama satu bulan, cukup catat setiap potongan apa adanya: nilainya, barangnya, dan siapa yang memberikan.

Setelah sebulan, angkanya akan menjawab sendiri pertanyaan yang selama ini hanya dikira-kira — berapa sebenarnya total diskon yang Anda berikan, dan barang mana yang paling sering dipotong harganya. Hampir selalu ada satu atau dua barang yang menyumbang sebagian besar potongan, dan hampir selalu itulah barang yang harga jualnya perlu ditinjau ulang, bukan diskonnya yang perlu dilarang.

Pada sistem kasir yang kami sediakan untuk toko, warung, apotek, dan restoran, diskon tercatat terpisah dari harga jual sejak awal, jadi pencatatan sebulan ini tidak menambah pekerjaan siapa pun. Daftar layanannya bisa dilihat di katalog produk.

Yang menentukan hasilnya tetap bagian yang paling sederhana — potongan dicatat sebagai potongan, bukan disembunyikan di dalam harga.

Bagikan artikel ini
Mulai Sekarang

Siap Melihat Sistem Kami Bekerja untuk Usaha Anda?

Ceritakan kebutuhan Anda, dan tim kami akan menghubungi Anda melalui WhatsApp untuk menjadwalkan demo layanan secara gratis.

Dengan mengirim form ini, Anda akan diarahkan ke WhatsApp resmi kami.